IbadahRitual dan Ibadah Sosial. Pengejawantahan dari janji tersebut ialah mealaksanakan apa yang diperintahkan dan menjauhi larangan Tuhan. Oleh sebab itu, manusia mulai berlomba melakukan kebaikan sebagai bukti kepatuhan kepada Tuhan. Maka tak heran di berbagai tempat banyak kita jumpai kegiatan berbau agama yang dengan beragam sebutan atau Ibadahritual yang kita lakukan harus merefleksikan sebuah kegiatan-kegiatan yang memberikan pencerahan dan kegiatan penyegaran kepada lingkungan masyarakat. Sholat kita, puasa kita, zakat kita, dzikir kita, tahlil kita tilawah Qur'an kita hendaklah memberikan dampak pengaruh social dalam kehidupan kita. Untuk itulah Rasulullah SAW menyatakan Dengankata lain, kesalehan ritual-individual harus sejalan dengan kesalehan sosial. Dianggap sia-sia ibadah ritual seseorang, jika tidak disertai dengan ibadah sosial. Rajin shalat jamah di Masjid, harus diimbangi dengan rajin sedekah, peduli dengan nasib kaum mustadh'afin. Rutin mengaji harus disertai dengan rutin berbagi kepada saudara Mengapaibadah ritual harus sejalan dengan ibadah sosial - 4472460. diniardi diniardi 28.11.2015 Sekolah Menengah Atas terjawab Mengapa ibadah ritual harus sejalan dengan ibadah sosial 1 Lihat jawaban Iklan Iklan hestyainun15 hestyainun15 Mungkin karena tidak di inginkan nantinya terjadi bid'ah yg buruk krn tdk sesjalan dgn ibadah sosial ๏ปฟMengapaibadah ritual harus sejalan dengan ibadah sosial?jelaskan! - 34760481 syahrulridwantb syahrulridwantb 19.10.2020 B. Arab Sekolah Menengah Atas terjawab Mengapa ibadah ritual harus sejalan dengan ibadah sosial?jelaskan! 1 Lihat jawaban Iklan Iklan nilna7793 nilna7793 Jawaban: supaya ibadah tersebut dapat diterima. maaf kalo salah. Iklan Sayaberharap umat islam tidak menjadi umat yang ritualistik yakni ibadah hanya untuk mencari pahala," kata Ma'mun. Memaknai ibadah tidak selesai pada dimensi ritual, namun umat Islam juga perlu memaknai pada dimensi sosial kemanusiaan. Ibadah puasa sarat akan pesan-pesan sosial. Surat Al-Baqarah ayat 183 sampai 185 menjelaskan tentang Adabeberapa jenis ibadah sosial yang bisa secara mudah dilakukan oleh seorang muslim, beberapa diantaranya adalah sebagai berikut: 1. Sedekah. Sedekah merupakan salah satu jenis ibadah sosial yang menyangkut antara hubungan seorang manusia dengan manusia. Ibadah yang dilakukan memberikan nilai kemanfaatan bagi orang yang mendapatkan sedekah. IbadahSosial. By. Suherman Syach. Terkadang "ibadah" dimaknai sempit sebagian orang. Para awam menganggap ibadah keagamaan hanyalah yang bersifat ritual dan bersyariat khusus. Amalan selain ibadah ritual tersebut, mereka tidak menggolongkannya sebagai ibadah. Implikasinya, mereka menilai hanya ibadah ritual yang menjadi sarana penyembahan Penceramah: Drs. Hasrat Efendi Samosir, MA Hari/Tanggal : Senin, 27 Maret 2017 Judul ceramah : Ibadah Sosial vs Ibadah Ritual Dalam hidup ini dua macam ibadah. Ibadah ritual dan ibadah sosial. Atau dalam istilah lain, kesalehan individual dan kesalehan sosial. Salah satu surah yang menyuruh kita untuk melaksanakan ibadah sosial yaitu surah al-Ma'un, "Tahukah [] Mengapaibadah ritual harus sejalan dengan ibadah sosial - 12134986 fhjhgfadt fhjhgfadt 11.09.2017 B. Arab Sekolah Menengah Atas terjawab Mengapa ibadah ritual harus sejalan dengan ibadah sosial 1 Lihat jawaban Iklan Iklan niakurniawati25 niakurniawati25 Karena keduanya sama2 beribadah Iklan Iklan IbadahRitual harus Dibarengi dengan Ibadah Sosial. by ilham. 9 months ago. in Berita, Nasional. MUHAMMADIYAH.OR.ID, BANDUNGโ€”Selain QS. Al Shaff ayat 10 sampai 13, Agung Danarto juga meyakini bahwa QS. Al Hujurat ayat 10 menjadi landasan teologis dari berkembangnya kegiatan amal usaha di Muhammadiyah. Ayat tersebut juga membicarakan tentang htJHgRe. Bisa dikatakan puasa adalah ibadah sosial. Karena, tujuan terbesar diwajibkanya puasa Ramadhan adalah berkenaan dengan problematika sosial. Seperti keadilan sosial, wabah korupsi, kejujuran, amanah dan pengentasan kemiskinan. Sehingga, puasa Ramadan kali ini pun akan memiliki relevansi yang signifikan dengan hiruk-pikuk kondisi bangsa Indonesia saat ini. Puasa bukan sebatas hubungan vertikal antara manusia dengan Tuhan, bahkan memiliki hubungan horizontal antara manusia dengan sosial. Agar tidak terkesan basi, saya berusaha mengaitkan hubungan antara puasa dan sosial dengn perspektif baru yang mungkin belum pernah dikaji sebelumnya. Puasa dan keadilan adalah dua hal yang saling berhubungan yang tidak bisa dipisahkan antara satu dan lainya. Karena jika ditelisik lebih dalam dan rinci, keadilan adalah tujuan dari disyariatkanya puasa itu sendiri. Jika boleh saya katakan, puasa adalah sarana ataupun transportasi untuk menuju tujuan universal Tuhan yang di antaranya adalah keadilan sosial, kejujuran dan kesejahteraan. Begitu pun antara puasa dan korusi. Keduanya memiliki ikatan signifikan yang tidak dapat dipisahkan. Seseorang yang senantiasa menjalankan puasa, namun enggan untuk menanggalkan sifat korubnya, maka dia tidak bisa dikatakan telah menjalankan inti dari puasa tersebut. Karena inti dari berpuasa adalah meninggalkan berkorupsi itu sendiri. Hal tersebut bisa kita lihat dengan jelas dalam firman Tuhan โ€œHai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwaโ€ QS Al Baqarah 183 Pada ayat tersebut, secara eksplisit Tuhan mengatakan bahwa tujuan diwajibkanya berpuasa adalah โ€œagar kamu bertaqwaโ€. Jika demikan, maka sebenarnya inti dari pada puasa tersebut adalah bertakwa itu sendiri. Sehingga, dalam ayat tersebut secara tidak langsung, seolah Tuhan mengatakan, โ€œWahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu bertakwa.โ€ 1. Puasa dan Keadilan Takwa โ€“sebagaimana menurut ulamaโ€“ adalah mentaati perintah Tuhan dan menjauhi larangan-Nya. Dan berbuat adil adalah salah satu yang diperintahkan oleh Tuhan. Sebagaimana dalam dalam firman-Nya โ€œSesungguhnya Allah menyuruh kamu berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.โ€ QS An-Nahl 90 Dengan berbuat adil berarti kita telah mentaati perintah Tuhan, dan mentaati perintah Tuhan adalah makna dari ketakwaan, dan ketakwaan adalah tujuan dari disyariatkanya berpuasa. Berarti, tujuan disyariatkanya berpuasa adalah keadilan itu sendiri. Jika demikian, maka โ€”menurut sayaโ€“ maksud dari QS Al Baqarah, ayat 183 di atas adalah, seolah Tuhan hendak mengatakan โ€œHai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agarโ€ kamu berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan menjauhi perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan.โ€ Sampai disini jelaslah bahwa tujuan puasa adalah agar manusia berbuat adil dan kebajikan lainya kepada sesama. Maka, sangatlah jelas bahwa puasa bukan semata hubungan vertikal manusi dengan Tuhan bahkan memiliki hubungan horizontal dengan sosial. Sehingga puasa bukan hanya bersifat teosentris, bahkan antroposentris. 2. Puasa dan Korupsi Sebagaimana takwa adalah mentaati perintah Tuhan, begitupun menjauhui larangan Tuhan yang berupa korupsi. Korupsi adalah sebentuk kejahatan dengan modus memakan harta orang lain dengan batil. Sehinggga, korupsi merupakan tindakan keji yang secara eksplisit dilarang oleh Tuhan. Sebagaimana yang dikatakan Tuhan dalam surat Al-Baqarah yang artinya โ€œDan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang bathil dan janganlah kamu membawa urusan harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan jalan berbuat dosa, padahal kamu mengetahui.โ€ QS Al-Baqarah 188 Menjauhi korupsi adalah menjauhi larangan Tuhan, menjauhi larangan Tuhan adalah ketakwaan, ketakwaan adalah tujuan diwajibkanya puasa Ramadhan. Kesimpulanya, tujuan diwajibkanya puasa Ramadhan adalah menjahuhi tindakan keji berupa korupsi. Sehingga maksud dari surat al-Baqarah, ayat 183 di atas adalah, seolah Tuhan hendak mengatakan โ€œHai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu tidak memakan harta sebagian yang lain di antara kamu dengan cara yang batil yaitu korupsi.โ€ 3. Puasa dan Pengentasan Kemiskinan Puasa sangat berhubungan dengan pengentasan kemiskinan. Menurut saya, diantara tujuan Tuhan melalui ibadah puasa adalah mengentaskan manusia dari segala kemiskinan. Artinya, mengentaskan kemiskinan termasuk inti dari puasa itu sendiri. Karena sebagaimana yang telah saya katakan di atas bahwa, inti dari puasa adalah takwa, sedang menyejahterakan manusia adalah bagian dari takwa. Dalam literatur fikih, seseorang yang merusakan puasanya dengan ber-making love di siang hari maka dia terkena kewajiban yang diantaranya adalah memerdekakan hamba sahaya ataupun memberi makan threescore orang fakir miskin. Pertanyaanya, kenapa memerdekakan hamba sahaya dan memberi makam fakir miskin? Menurut saya, karena tujuan Tuhan melalui puasa adalah menyejahterakan manusia yang di antaranya dengan memerdekakan budak dan membantu yang tak mampu. Sehingga wajar ketika seseorang merusak puasanya maka hukumanya juga memerdekakan budak dan membantu yang tak mampu. Karena itulah yang sebenarnya diinginkan Tuhan dari puasa yang dirusaknya. Seolah Tuhan berkata, โ€œYang saya kehendaki dari puasa adalah agar kalian meng-sejahterakan manusia. Sehingga, ketika kalian tidak berpuasa, maka kalian pun tetap harus menuejahterakan manusia.โ€ Tuhan berfirman, โ€œDan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya jika mereka tidak berpuasa membayar fidyah, yaitu memberi makan seorang miskin. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahuiโ€ QS Al-Baqarah 114 Terlepas dari pro-kontra ulama dalam memahami ayat tersebut saya ingin mengatakan bahwa secara tegas inti ayat tersebut adalah mewajibkan kita agar mengsejahterakan umat manusia. Lalu mengapa dikatakan โ€œdan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahuiโ€? Karena menurut saya, berpuasa cakupannya lebih universal daripada sekadar manyejahterakan manusia. Itu pun โ€œjika kamu mengetahuiโ€. Wallahu aโ€™lam bish showaab. * Muh Amrullah adalah mahasiswa Al Azhar, Mesir. Penulis aktif di LBMNU Mesir dan tinggal di Nasr City, Kairo, Mesir. Electronic mail [email protected] sumber Selama ini, tidak jarang kita jumpai orang-orang yang rajin serta tekun menjalankan aktivitas ibadah ritual, seperti sholat, puasa, haji, serta ibadah-ibadah ritual lainnya, yang menunjukkan tingkat kesalehan individu atau kesalehan pribadi, tetapi berbanding terbalik dengan aktivitasnya dalam ibadah-ibadah sosial. Mereka tidak memiliki empati terhadap orang lain, tidak peduli dengan kondisi lingkungan tempat mereka tinggal. Mereka apatis terhadap persoalan sosial yang dihadapi oleh warga di sekitar tempat mereka tinggal. Kesalehan ritual individu yang mereka miliki tidak sejalan dengan kesalehan al-Qurโ€™an mengajarkan pentingnya hubungan dengan Allah hablun min Allah dan hubungan dengan sesama manusia hablun min an-nas. Ibarat dua sisi koin yang tidak dapat dipisahkan. Hubungan dengan Allah harus terjalin dengan baik, pun demikian halnya dengan hubungan sesama manusia, harus berjalan dengan baik pula. Dengan kata lain, kesalehan ritual-individual harus sejalan dengan kesalehan fenomena yang kita dapati jauh panggang dari api. Betapa banyak kita jumpai orang-orang yang tampak saleh, kerap menunjukkan simbol-simbol agama, tetapi justru menodai agama dengan perilaku tercela. Shalat setiap hari, tetapi korupsi tak pernah berhenti. Haji dan umrah berkali-kali, tetapi abai dan tidak peduli dengan nasib para mustadhโ€™afin, kaum fakir miskin. Rajin mengunjungi majelis taklim tetapi juga rajin menggunjing, memfitnah, menebar benci di demikian kenyataannya, izinkan saya sekadar bertanya, untuk apa shalat jika hanya sebatas menggugurkan kewajiban ritual formal semata tanpa makna? Padahal, inti dari shalat adalah mencegah perbuatan keji dan munkar. Untuk apa bolak-balik pergi haji dan umrah dengan biaya yang tidak sedikitโ€”padahal Rasulullah Saw. sendiri hanya melaksanakan Haji sekali seumur hidupnya, dan umrah hanya dua kali sepanjang hayatnyaโ€” tetapi tidak peka dan tidak peduli dengan nasib para fakir miskin? Apa manfaatnya rajin menghadiri pengajian, majelis taklim, jika tidak ada dampak sedikit pun dalam mengubah akhlak menjadi lebih baik?Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut ada pada diri kita masing-masing. Dan itu akan menunjukkan seperti apa sesungguhnya kualitas diri kita yang penulis, setelah ibadah ritual kita lakukan, setelah kesalehan individu personal kita tampakkan, maka langkah selanjutnya adalah menerjemahkan makna ibadah-ibadah tersebut dalam kehidupan sosial kita. Inilah yang kemudian disebut dengan kesalehan antara wujud kesalehan sosial adalah lahirnya sikap cinta dan kasih sayang terhadap sesama. Dianggap sia-sia ibadah ritual seseorang, jika tidak disertai dengan ibadah sosial. Rajin shalat jamah di Masjid, harus diimbangi dengan rajin sedekah, peduli dengan nasib kaum mustadhโ€™afin. Rutin mengaji harus disertai dengan rutin berbagi kepada saudara dan tetangga yang membutuhkan. Tekun bermunajat memohon pertolongan Allah harus dibarengi dengan tekun memberi pertolongan kepada orang lain. Aktif mencari ilmu harus diikuti dengan aktif menyebarkan serta menyampaikannya kepada orang wujud nyata dari kesalehan sosial. Sehingga hadirnya seseorang di tengah masyarakat, dapat memberi arti, makna serta manfaat bagi orang lain di pesan Nabi Saw, โ€œSebaik-baik manusia adalah yang paling banyak memberi manfaat kepada orang lainโ€. HR. Ahmad.* Ruang Inspirasi, Ahad, 16 Januari Khutbah Jumat I Keutamaan Ibadah Sosial dalam IslamุงูŽู„ู’ุญูŽู…ุฏู ู„ู„ู‡ู ุงู„ู‘ูŽุฐูู‰ ุงูŽู…ูŽุฑูŽู†ุงูŽ ุจูุงุชูู‘ุจูŽุงุนู ุงู’ู„ุญูŽู‚ูู‘ ููู‰ ูƒูู„ูู‘ ุงูู…ูุฑู, ุฃูŽุดู’ู‡ูŽุฏูุงูŽู†ู’ ู„ุงูŽุงูู„ูฐู‡ูŽ ุงูู„ุงูŽู‘ุงู„ู„ู‡ ููˆูŽุญู’ุฏูŽู‡ู ู„ุงูŽ ุดูŽุฑููŠู’ูƒูŽ ู„ูŽู‡ู, ูˆูŽุงูŽุดู’ู‡ูŽุฏู ุงูŽู†ู‘ูŽ ู…ูุญูŽู…ู‘ูŽุฏู‹ุง ุนูŽุจู’ุฏูู‡ู ูˆูŽุฑูŽุณููˆู’ู„ูู‡ู ุดูŽู‡ูŽุงุฏูŽุฉู‹ ุนูŽุจู’ุฏูุดูŽูƒููˆู’ุฑู. ุงูŽู„ู„ู‘ูฐู‡ูู…ู‘ูŽ ุตูŽู„ูู‘ ูˆูŽุณูŽู„ูู‘ู…ู’ ุนูŽู„ู‰ูฐ ุณูŽูŠูู‘ุฏูู†ูŽุง ู…ูุญูŽู…ูŽู‘ุฏู ูˆูŽุนูŽู„ู‰ูฐ ุงูฐู„ูู‡ ูˆูŽุตูŽุญู’ุจูู‡ู ุนูŽู„ู‰ูŽ ู…ูŽู…ูŽุฑูู‘ุงู„ุฏู‘ูู‡ููˆู’ุฑู. ๏ดฟุฃูŽู…ู‘ูŽุง ุจูŽุนู’ุฏู๏ดพ ููŽูŠูŽุง ุนูุจูŽุงุฏูŽ ุงู„ู„ู‡ู. ุฅูุชู‘ูŽู‚ููˆู’ุงุงู„ู„ู‡ูŽ ุญูŽู‚ู‘ูŽ ุชูู‚ูŽุงุชูู‡ู ูˆูŽู„ุงูŽุชูŽู…ููˆู’ุชูู†ู‘ูŽ ุงูู„ุงู‘ูŽูˆูŽุงูŽู†ู’ุชูู…ู’ sidang Jumat Hafidzakumullah!Ketika mengajarkan surat al-Maโ€™uun dan meminta para santri untuk mengulang-ulang surah tersebut, Kiai Ahmad Dahlan ditanya perihal mengapa surat itu saja yang dibaca dan diulang. Mendengar pertanyaan itu, Kiai Dahlan balik bertanya, โ€œApakah kalian sudah paham surat ini? Apakah kalian sudah mempraktekkannya?โ€ Dahlan lantas meminta murid-muridnya untuk mencari orang paling miskin yang bisa ditemui di masyarakat, kemudian memandikannya dan sidang Jumat Hafidzakumullah!Kisah ini mengajarkan bahwa Alquran tidak hanya dibaca untuk penghias kesalehan pribadi namun juga dipraktekan dalam amal sosial. Menurut Yusuf al-Qorodhowi surat al-Maโ€™un ini berbicara mengenai keharusan adanya kaitan antara amal ritual dan amal sosial dalam beragama. Jika ditelisik lebih jauh, Alquran lebih banyak menekankan amal sosial daripada amal kalau kita kembali kepada ciri-ciri orang mukmin atau orang bertakwa, maka ditemukan di situ ibadah ritualnya satu tetapi ibadah sosialnya banyak. Misalnya โ€œberbahagialah orang-orang yang beriman yaitu orang yang khusyuk dalam shalatnya dimensi ritual; yang mengeluarkan zakat dimensi sosial; orang yang berpaling dari hal-hal yang tidak bermanfaat dimensi sosial; dan mereka yang memelihara kehormatannya kecuali kepada istrinya dimensi sosial.โ€ Anehnya kita sering mengukur orang takwa dari ritualnya ketimbang sosialnya. Kedua, kalau ibadah itu ibadah ritual, dan kebetulan pekerjaan itu bersamaan dengan pekerjaan yang lain yang mengandung dimensi sosial, kita diberi pelajaran mendahulukan yang sosial. Misalnya Nabi SAW pernah melarang membaca surah yang panjang-panjang di dalam shalat berjamaah. Nabi pernah memperpanjang waktu sujudnya hanya karena di pundaknya ada cucunya di situ. Bahkan dalam sebuah riwayat, ketika nabi sedang shalat kalau ibadah ritual kita bercacat, kita dianjurkan untuk berbuat sesuatu yang bersifat sosial. Misalnya ritual puasa. Kalau kita melanggar larangan puasa, maka salah satu tebusannya adalah member makan kepada fakir miskin. Juga ritual haji, kalau terkena dam, kita harus menyembelih binatang dan dagingnya dibagikan kepada fakir sebaliknya, kalau ada cacat dalam ibadah dimensi sosial, maka amal ibadah ritual tidak bisa dijadikan sebagai tebusan ibadah sosial itu. Misalnya, kalau kebetulan kita berbuat zalim terhadap tetangga, maka kezaliman itu tidak bisa dihapuskan dengan salat malam selama sekian sidang Jumat Hafidzakumullah!Bahkan banyak keterangan malah mengatakan bahwa orang yang shalatnya baik atau ibadah mahdhah-nya baik tetapi kemudian amalnya jelek secara sosial, maka Allah tidak menerima seluruh amalan ibadah mahdhah-nya tersebut. Seperti pernah seseorang datang kepada Rasulullah yang mengadukan ada seseorang yang puasa tiap hari dan shalat malam dengan rajin tetapi dia menyakiti tetangga dengan lidahnya. Apa kata Rasulullah SAW? โ€œPerempuan itu di neraka,โ€ demikian, perlulah kiranya kita memahami bahwa ibadah ritual apa pun dalam Islam pasti tujuannya ialah bukan untuk menambah kas pahala individu belaka namun juga untuk bederma bakti membantu manusia dan sidang Jumat Hafidzakumullah!Demikianlah, dan sekali lagi, kemuliaan pekerjaan sungguh tidak bisa dilihat dari jenisnya. Setelah memenuhi empat prinsip di atas, nilai sebuah pekerjaan akan diukur dari kualitas niat shahihatun fi an-niyat dan pelaksanaannya shahihatun fi at-tahshil. Itulah pekerjaan yang bernilai ibadah dan kelak akan mengantarkan pelakunya ke pintu ู‚ูŽูˆู’ู„ููŠู’ ู‡ูฐุฐูŽุง ูˆูŽุฃูŽุณู’ุชูŽุบู’ููุฑู ุงู„ู„ู‡ูŽ ู„ููŠู’ ูˆูŽู„ูŽูƒูู…ู’ุŒ ููŽุงุณู’ุชูŽุบู’ููุฑููˆู’ู‡ูุŒ ุฅูู†ู‘ูŽู‡ู ู‡ููˆูŽ ุงู„ู’ุบูŽูููˆู’ุฑู ุงู„ุฑู‘ูŽุญููŠู’ู…ูKhutbah Jumat I Keutamaan Ibadah Sosial dalam Islamุงู„ู’ุญูŽู…ู’ุฏู ู„ูู„ูŽู‘ู‡ู ุงู„ูŽู‘ุฐููŠ ู„ูŽู‡ู ู…ูŽุง ูููŠ ุงู„ุณูŽู‘ู…ูŽุงูˆูŽุงุชู ูˆูŽู…ูŽุง ูููŠ ุงู„ู’ุฃูŽุฑู’ุถู ูˆูŽู„ูŽู‡ู ุงู„ู’ุญูŽู…ู’ุฏู ูููŠ ุงู„ู’ุขุฎูุฑูŽุฉู ูˆูŽู‡ููˆูŽ ุงู„ู’ุญูŽูƒููŠู…ู ุงู„ู’ุฎูŽุจููŠุฑู. ุฃูŽุดู’ู‡ูŽุฏู ุฃูŽู†ู’ ู„ู‘ูŽุง ุฅูู„ู‡ูŽ ุฅูู„ู‘ูŽุง ุงู„ู„ู‡ู ูˆูŽุญู’ุฏูŽู‡ู ู„ูŽุง ุดูŽุฑููŠู’ูƒูŽ ู„ูŽู‡ูุŒ ูˆูŽุฃูŽุดู’ู‡ูŽุฏู ุฃูŽู†ู‘ูŽ ุณูŽูŠูู‘ุฏูŽู†ูŽุง ู…ูุญูŽู…ู‘ูŽุฏู‹ุง ุนูŽุจู’ุฏูู‡ู ูˆูŽุฑูŽุณููˆู’ู„ูู‡. ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูู…ู‘ูŽ ููŽุตูŽู„ู‘ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูู…ู’ ูˆูŽุจูŽุงุฑููƒู’ ุนูŽู„ูŽู‰ ุณูŽูŠู‘ูุฏูู†ูŽุง ู…ูุญูŽู…ู‘ูŽุฏู ูˆูŽุนูŽู„ูŽู‰ ุขู„ูู‡ู ูˆูŽุตูŽุญู’ุจูู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูู…. ุฃูŽู…ู‘ูŽุง ุจูŽุนู’ุฏูุŒ ููŽูŠูŽุง ุฃูŽูŠู‘ูู‡ูŽุง ุงู„ู’ู…ูุณู’ู„ูู…ููˆู’ู†ูŽุŒ ุฃููˆู’ุตููŠู’ูƒูู…ู’ ูˆูŽู†ูŽูู’ุณููŠู’ ุจูุชูŽู‚ู’ูˆูŽู‰ ุงู„ู„ู‡ู ููŽุฅูู†ู‘ููŠ ุฃููˆู’ุตููŠู’ูƒูู…ู’ ูˆูŽู†ูŽูู’ุณููŠู’ ุจูุชูŽู‚ู’ูˆูŽู‰ ุงู„ู„ู‡ู ููŽู‚ูŽุฏู’ ููŽุงุฒูŽ ุงู„ู’ู…ูุชู‘ูŽู‚ููˆู’ู†ูŽ ูˆูŽู‚ูŽุงู„ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุชูŽุนูŽุงู„ูŽู‰ ูููŠู’ ุงู„ู’ู‚ูุฑู’ุขู†ู ุงู„ู’ูƒูŽุฑููŠู’ู… ุฅูู†ู‘ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูŽ ูˆูŽู…ูŽู„ูŽุงุฆููƒูŽุชูŽู‡ู ูŠูุตูŽู„ู‘ููˆู†ูŽ ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ูุŒ ูŠูŽุง ุฃูŽูŠู‘ูู‡ูŽุง ุงู„ู‘ูŽุฐููŠู†ูŽ ุขู…ูŽู†ููˆุง ุตูŽู„ู‘ููˆุง ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูู…ููˆุง ุชูŽุณู’ู„ููŠู…ู‹ุง. ุงูŽู„ู„ู‘ูฐู‡ูู…ู‘ูŽ ุงุบู’ููุฑู’ ู„ูู„ู’ู…ูุณู’ู„ูู…ููŠู’ู†ูŽ ูˆูŽุงู„ู’ู…ูุณู’ู„ูู…ูŽุงุชู ูˆุงู„ู’ู…ูุคู’ู…ูู†ููŠู’ู†ูŽ ูˆูŽุงู„ู’ู…ูุคู’ู…ูู†ูŽุงุชู ุงู„ู’ุฃูŽุญู’ูŠูŽุงุกู ู…ูู†ู’ู‡ูู…ู’ ูˆูŽุงู„ู’ุฃูŽู…ู’ูˆูŽุงุชูุŒ ุงู„ู„ู‡ู… ุงุฏู’ููŽุนู’ ุนูŽู†ู‘ูŽุง ุงู„ู’ุจูŽู„ูŽุงุกูŽ ูˆูŽุงู„ู’ุบูŽู„ูŽุงุกูŽ ูˆูŽุงู„ู’ูˆูŽุจูŽุงุกูŽ ูˆูŽุงู„ู’ููŽุญู’ุดูŽุงุกูŽ ูˆูŽุงู„ู’ู…ูู†ู’ูƒูŽุฑูŽ ูˆูŽุงู„ู’ุจูŽุบู’ูŠูŽ ูˆูŽุงู„ุณู‘ููŠููˆู’ููŽ ุงู„ู’ู…ูุฎู’ุชูŽู„ูููŽุฉูŽ ูˆูŽุงู„ุดู‘ูŽุฏูŽุงุฆูุฏูŽ ูˆูŽุงู„ู’ู…ูุญูŽู†ูŽุŒ ู…ูŽุง ุธูŽู‡ูŽุฑูŽ ู…ูู†ู’ู‡ูŽุง ูˆูŽู…ูŽุง ุจูŽุทูŽู†ูŽุŒ ู…ูู†ู’ ุจูŽู„ูŽุฏูู†ูŽุง ู‡ูŽุฐูŽุง ุฎูŽุงุตู‘ูŽุฉู‹ ูˆูŽู…ูู†ู’ ุจูู„ู’ุฏูŽุงู†ู ุงู„ู’ู…ูุณู’ู„ูู…ููŠู’ู†ูŽ ุนูŽุงู…ู‘ูŽุฉู‹ุŒ ุฅูู†ู‘ูŽูƒูŽ ุนูŽู„ูŽู‰ ูƒูู„ูู‘ ุดูŽูŠู’ุกู ู‚ูŽุฏููŠู’ุฑูŒ ุนูุจูŽุงุฏูŽ ุงู„ู„ู‡ูุŒ ุฅู†ู‘ูŽ ุงู„ู„ู‡ูŽ ูŠูŽุฃู’ู…ูุฑู ุจูุงู„ู’ุนูŽุฏู’ู„ู ูˆูŽุงู„ู’ุฅุญู’ุณูŽุงู†ู ูˆูŽุฅููŠู’ุชูŽุงุกู ุฐููŠ ุงู„ู’ู‚ูุฑู’ุจูŽู‰ ูˆูŠูŽู†ู’ู‡ูŽู‰ ุนูŽู†ู ุงู„ููŽุญู’ุดูŽุงุกู ูˆูŽุงู„ู’ู…ูู†ู’ูƒูŽุฑู ูˆูŽุงู„ุจูŽุบู’ูŠูุŒ ูŠูŽุนูุธููƒูู…ู’ ู„ูŽุนูŽู„ู‘ูŽูƒูู…ู’ ุชูŽุฐูŽูƒู‘ูŽุฑููˆู’ู†ูŽ. ููŽุงุฐูƒูุฑููˆุง ุงู„ู„ู‡ูŽ ุงู„ู’ุนูŽุธููŠู’ู…ูŽ ูŠูŽุฐู’ูƒูุฑู’ูƒูู…ู’ ูˆูŽู„ูŽุฐููƒู’ุฑู ุงู„ู„ู‡ู ุฃูŽูƒู’ุจูŽุฑูANBaca juga teks khutbah Jumat yang lain di sini. Keseimbangan Ibadah Ritual dan Ibadah Sosial Oleh A. Fatih Syuhud Ketika Nabi mendengar berita bahwa Sahabat Abdullah bin Amr bin Ash sangat rajin beribadah siang dan malam sepanjang hari dan bulan, Rasulullah lalu memanggilnya dan bertanya, โ€œApakah betul bahwa engkau selalu puasa pada siang hari dan tidak tidur pada malam hari?โ€ โ€œBetul ya Rasulullahโ€, jawab Abdullah. Lalu Nabi dengan tegas menyatakan, โ€œJangan lakukan itu. Puasa dan berbukalah. Bangun dan tidurlah. Karena tubuhmu, matamu dan istrimu masing-masing punya hak yang harus engkau penuhi.โ€[1] Nasihat Nabi kepada Abdullah bin Amr tersebut menunjukkan bahwa seorang muslim yang baik adalah yang dapat menjaga keseimbangan dalam kehidupan dan tidak berlebihan dalam segi apapun termasuk dalam beribadah. Seorang muslim yang baik tidak harus beribadah selama 24 jam setiap hari. Karena, hal itu bertentangan dengan fitrah manusia. Seorang muslim hendaknya tetap menjadi manusia normal yang menikah dan membina keluarga serta bekerja mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan hidup diri, anak dan istrinya di samping beribadah tentunya. Bekerja untuk menafkahi keluarga bukan hanya tidak dilarang, ia justru menjadi bagian dari ibadah apabila dilakukan dengan tulus dan dengan niat mengharap pahala dan ridha Allah. Nabi bersabda โ€œApabila seorang lelaki menafkahkan harta pada keluarganya dengan niat ibadah, maka itu dianggap sadaqah.โ€[2] Dengan demikian, dalam Islam perbuatan yang mendapat pahala dan dihargai oleh Allah tidak terbatas hanya pada ibadah ritual murni mahdah seperti shalat, puasa dan haji, tapi juga meluas pada segala perilaku duniawi apabila itu dilakukan dengan niat ibadah. Termasuk di dalamnya interaksi sosial yang baik antara sesama manusia. Islam sangat menghargai individu muslim yang memiliki kepekaan dan empati dalam berperilaku yang dapat menciptakan keharmonisan, kedamaian, keadilan dan manfaat pada sesama manusia dan alam. Nabi bersabda โ€œSetiap persendian manusia wajib bersedekah pada setiap hari di mana matahari terbit di dalamnya engkau berlaku adil kepada dua orang yang bertikai / berselisih adalah sedekah, engkau membantu seseorang menaikannya ke atasnya hewan tunggangannya atau engkau menaikkan barang bawaannya ke atas hewan tunggangannya adalah sedekah, ucapan yang baik adalah sedekah, setiap langkah yang engkau jalankan menuju ke masjid untuk shalat adalah sedekah, dan engkau menyingkirkan gangguan dari jalan adalah sedekah.โ€[3] Dalam hadits yang serupa Nabi bersabda โ€œSenyummu di depan saudaramu adalah sedekah. Begitu juga amar makruf nahi munkar, memberi petunjuk pada musafir yang tersesat, menolong orang buta dan membuang batu dan duri dari tengah jalan.โ€[4] Dalam menjelaskan hadits ini, Al-Mausuah Al-Fiqhiyah Al-Kuwaitiyah menyatakan โ€œSunnah hukumnya menghilangkan sesuatu yang berpotensi menyakiti sesama muslim di manapun berada. Rasulullah menganggap bahwa membuang duri dari jalan itu bagian dari iman dalam sabdanya, โ€œIman itu terdiri dari 70 lebih bagian. Yang paling utama adalah Lailaha illallah. Dan yang paling dasar adalah membuang duri dari jalan.โ€[5] Terkait hadits anjuran menyingkirkan gangguan dari tengah jalan, Zainuddin Al-Iraqi w. 806 H dalam Tarh Al-Tatsrib, menyatakan bahwa membantu sesama tidak hanya sunnah tapi bisa berubah menjadi wajib dalam kondisi tertentu ุงู„ู…ุฑุงุฏ ุจุฅู…ุงุทุฉ ุงู„ุฃุฐู‰ ุนู† ุงู„ุทุฑูŠู‚ ุฅุฒุงู„ุฉ ู…ุง ูŠุคุฐูŠ ุงู„ู…ุงุฑุฉ ู…ู† ุญุฌุฑ ุฃูˆ ุดูˆูƒ ุŒ ูˆูƒุฐุง ู‚ุทุน ุงู„ุฃุญุฌุงุฑ ู…ู† ุงู„ุฃู…ุงูƒู† ุงู„ูˆุนุฑุฉ ูƒู…ุง ูŠูุนู„ ููŠ ุทุฑูŠู‚ ุŒ ูˆูƒุฐุง ูƒู†ุณ ุงู„ุทุฑูŠู‚ ู…ู† ุงู„ุชุฑุงุจ ุงู„ุฐูŠ ูŠุชุฃุฐู‰ ุจู‡ ุงู„ู…ุงุฑ ูˆุฑุฏู… ู…ุง ููŠู‡ ู…ู† ุญูุฑุฉ ุฃูˆ ูˆู‡ุฏุฉ ูˆู‚ุทุน ุดุฌุฑุฉ ุชูƒูˆู† ููŠ ุงู„ุทุฑูŠู‚ ูˆููŠ ู…ุนู†ุงู‡ ุชูˆุณูŠุน ุงู„ุทุฑู‚ ุงู„ุชูŠ ุชุถูŠู‚ ุนู„ู‰ ุงู„ู…ุงุฑุฉ ูˆุฅู‚ุงู…ุฉ ู…ู† ูŠุจูŠุน ุฃูˆ ูŠุดุชุฑูŠ ููŠ ูˆุณุท ุงู„ุทุฑู‚ ุงู„ุนุงู…ุฉ ูƒู…ุญู„ ุงู„ุณุนูŠ ุจูŠู† ุงู„ุตูุง ูˆุงู„ู…ุฑูˆุฉ ูˆู†ุญูˆ ุฐู„ูƒ ููƒู„ู‡ ู…ู† ุจุงุจ ุฅู…ุงุทุฉ ุงู„ุฃุฐู‰ ุนู† ุงู„ุทุฑูŠู‚ ูˆู…ู† ุฐู„ูƒ ู…ุง ูŠุฑุชูุน ุฅู„ู‰ ุฏุฑุฌุฉ ุงู„ูˆุฌูˆุจ ูƒุงู„ุจุฆุฑ ุงู„ุชูŠ ููŠ ูˆุณุท ุงู„ุทุฑูŠู‚ ุงู„ุชูŠ ูŠุฎุดู‰ ุฃู† ูŠุณู‚ุท ููŠู‡ุง ุงู„ุฃุนู…ู‰ ูˆุงู„ุตุบูŠุฑ ูˆุงู„ุฏุงุจุฉ ูุฅู†ู‡ ูŠุฌุจ ุทู…ู‡ุง ุฃูˆ ุงู„ุชุญูˆูŠุท ุนู„ูŠู‡ุง ุฅู† ู„ู… ูŠุถุฑ ุฐู„ูƒ ุจุงู„ู…ุงุฑุฉ ูˆุงู„ู„ู‡ ุฃุนู„ู… . ูˆุฒุงุฏ ุงู„ุจุฎุงุฑูŠ ููŠ ู‡ุฐุง ุงู„ุญุฏูŠุซ { ูˆุฏู„ ุงู„ุทุฑูŠู‚ ุตุฏู‚ุฉ } ูˆู‡ูˆ ุฃู† ูŠุฏู„ ู…ู† ู„ุง ูŠุนุฑู ุงู„ุทุฑูŠู‚ ุนู„ูŠู‡ุง Artinya Yang dimaksud dengan โ€œmenyingkirkan gangguan dari jalanโ€ adalah menghilangkan sesuatu yang akan menyakiti orang lewat seperti batu atau duri. Begitu juga memotong batu dari tempat yang sulit sebagaimana dilakukan di jalan. Begitu juga menyapu jalan dari debu yang dapat mengganggu orang lewat dan menutup lubang sesuatu di jalan seperti lubang atau tanah rendah dan memotong pohon yang berada di jalan. Serupa dengan itu adalah memperluas jalan yang sempit yang mempersempit orang yang lewat dan membangun tempat orang yang jual beli di tengah jalan umum seperti tempat saโ€™i antara shofa dan marwah dan lain-lain. Semua itu termasuk dalam kategori menyingkirkan gangguan dari jalan. Dan hal ini bisa naik pada tingkat wajib seperti sumur yang berada di tengah jalan yang dikuatirkan akan menyebabkan jatuhnya orang buta, anak kecil dan hewan, maka wajib menutupinya atau memberi tembok apabila hal itu tidak mengganggu orang lewat. Imam Bukhari menambah pada hadits ini dengan kalimat โ€œMenunjukkan jalan itu termasuk sadaqah.โ€ Maksudnya menunjukkan jalan pada orang yang tidak tahu. [6] Dari uraian ini dapat diambil beberapa poin kesimpulan, pertama, perlunya keseimbangan antara ibadah murni dengan ibadah duniawi. Kedua, perbuatan duniawi yang hukum asalnya bersifat mubah, bukan sunnah, dapat naik tingkat dan berubah menjadi sunnah apabila diniati ibadah. Ketiga, perbuatan baik yang bermanfaat pada sesama manusia adalah ibadah sunnah bahkan dapat berubah menjadi wajib dalam situasi tertentu. Termasuk ibadah Keempat, ibadah sosial sama baiknya dengan ibadah murni dan seorang muslim sangat dianjurkan untuk berimbang dan proporsional dalam hal ini sebagaimana disebut dalam hadits Abdullah bin Amr di atas.[] [1] Hadits sahih riwayat Bukhari dan Muslim dari Abu Salamah bin Abdurrahman. Teks hadits ู‚ุงู„ ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ูŠุง ุนุจุฏ ุงู„ู„ู‡ ุฃู„ู… ุฃุฎุจุฑ ุฃู†ูƒ ุชุตูˆู… ุงู„ู†ู‡ุงุฑ ูˆุชู‚ูˆู… ุงู„ู„ูŠู„ ู‚ู„ุช ุจู„ู‰ ูŠุง ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡ ู‚ุงู„ ูู„ุง ุชูุนู„ ุตู… ูˆุฃูุทุฑ ูˆู‚ู… ูˆู†ู… ูุฅู† ู„ุฌุณุฏูƒ ุนู„ูŠูƒ ุญู‚ุง ูˆุฅู† ู„ุนูŠู†ูƒ ุนู„ูŠูƒ ุญู‚ุง ูˆุฅู† ู„ุฒูˆุฌูƒ ุนู„ูŠูƒ ุญู‚ุง [2] Hadits sahih riwayat muttafaq alaih dari Abu Masโ€™ud Al-Anshari. Teks hadits ุฅุฐุง ุฃู†ูู‚ ุงู„ู…ุณู„ู… ู†ูู‚ุฉ ุนู„ู‰ ุฃู‡ู„ู‡ุŒ ูˆู‡ูˆ ูŠุญุชุณุจู‡ุง ูƒุงู†ุช ู„ู‡ ุตุฏู‚ุฉ [3] Hadits sahih riwayat muttafaq alaih dari Abu Hurairah. Teks hadits ูƒูู„ู‘ู ุณูู„ูŽุงู…ูŽู€ู‰ ู…ูู†ูŽ ุงู„ู†ู‘ูŽุงุณู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ุตูŽุฏูŽู‚ูŽุฉูŒ ูƒูู„ู‘ูŽ ูŠูŽูˆู’ู…ู ุชูŽุทู’ู„ูุนู ูููŠู’ู‡ู ุงู„ุดู‘ูŽู…ู’ุณู ุชูŽุนู’ุฏูู„ู ุจูŽูŠู’ู†ูŽ ุงุซู’ู†ูŽูŠู’ู†ู ุตูŽุฏูŽู‚ูŽุฉูŒ ุŒ ูˆูŽุชูุนููŠู’ู†ู ุงู„ุฑู‘ูŽุฌูู„ูŽ ููู€ูŠู’ ุฏูŽุงุจู‘ูŽุชูู‡ู ููŽุชูŽุญู’ู…ูู„ูู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ูŽุง ุŒ ุฃูŽูˆู’ ุชูŽุฑู’ููŽุนู ู„ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ูŽุง ู…ูŽุชูŽุงุนูŽู‡ู ุตูŽุฏูŽู‚ูŽุฉูŒ ุŒ ูˆูŽุงู„ู’ูƒูŽู„ูู…ูŽุฉู ุงู„ุทู‘ูŽูŠูู‘ุจูŽุฉู ุตูŽุฏูŽู‚ูŽุฉูŒ ุŒ ูˆูŽุจููƒูู„ูู‘ ุฎูุทู’ูˆูŽุฉู ุชูŽู€ู…ู’ุดููŠู’ู‡ูŽุง ุฅูู„ูŽู€ู‰ ุงู„ุตู‘ูŽู„ุงูŽุฉู ุตูŽุฏูŽู‚ูŽุฉูŒ ุŒ ูˆูŽุชูู€ู…ููŠู’ุทู ุงู’ู„ุฃูŽุฐูŽู‰ูฐ ุนูŽู†ู ุงู„ุทู‘ูŽุฑููŠู’ู‚ู ุตูŽุฏูŽู‚ูŽุฉูŒ [4] Hadits riwayat Tirmidzi sahih menurut Ibnu Hajar. Teks hadits ุชุจุณู…ูƒ ููŠ ูˆุฌู‡ ุฃุฎูŠูƒ ุตุฏู‚ุฉุŒ ูˆุฃู…ุฑูƒ ุจุงู„ู…ุนุฑูˆู ุตุฏู‚ุฉ ูˆู†ู‡ูŠูƒ ุนู† ุงู„ู…ู†ูƒุฑ ุตุฏู‚ุฉุŒ ูˆุฅุฑุดุงุฏูƒ ุงู„ุฑุฌู„ ููŠ ุฃุฑุถ ุงู„ุถู„ุงู„ ู„ูƒ ุตุฏู‚ุฉุŒ ูˆู†ุตุฑูƒ ุงู„ุฑุฌู„ ุงู„ุฑุฏูŠุก ุงู„ุจุตุฑ ู„ูƒ ุตุฏู‚ุฉุŒ ูˆุฅู…ุงุทุชูƒ ุงู„ุญุฌุฑ ูˆุงู„ุดูˆูƒ ุงู„ุนุธู… ุนู† ุงู„ุทุฑูŠู‚ ู„ูƒ ุตุฏู‚ุฉ [5] Al-Mausuah Al-Fiqhiyah Al-Kuwaitiyah, hlm. 2/469. [6] Abul Fadhal Zainuddin Al-Iraqi, Tharh Al-Tatsrib fi Syarh Al-Taqrib, hlm. 3/18.

mengapa ibadah ritual harus sejalan dengan ibadah sosial